Rabu, 14 Januari 2009

Nudibranch

Deskripsi

Nudibranch memiliki badan yang lembut. Bentuk dewasa tidak memiliki cangkang atau operculum.

Nudibranch umumnya menyimpan telur mereka dalam motif spiral.

Kata nudibranch berasal dari bahasa Latin nudus yang berarti telanjang, dan bahasa Yunani brankhia yang berarti insang.

Nudibranch memiliki kepala bertentakel, yang sangat sensitif terhadap sentuhan, rasa, dan bau. Rhinophore berbentuk seperti pentungan berperan untuk mendeteksi bau.

Mereka merupakan hewan hermafrodit, tetapi jarang melakukan fertilisasi sendiri.

Nudibranch adalah hewan karnivora. Beberapa memakan spons, yang lain hydroida, atau bryozoa, dan beberapa kanibal, memakan siput air lainnya, dan pada situasi tertentu, bahkan anggota spesies mereka sendiri.

Bentuk tubuh bervariasi. Ukuran berkisar antara 40 hingga 600 mm.

Mereka terdapat di seluruh dunia pada semua kedalaman, tetapi mereka mencapai ukuran terbesar dan bervariasi pada perairan hangat dan dangkal.

Di antara mereka, dapat ditemukan makhluk paling berwarna-warni di bumi. Karena siput air, karena evolusi, telah kehilangan cangkang mereka, mereka perlu mencari cara melindungi diri: yaitu kamuflase, melalui warna yang membuat mereka tidak kelihatan atau menakuti predator karena mereka rasanya tidak enak atau beracun.

Taksonomi

"Nudibranchia", dari Ernst Haeckel's Artforms of Nature, 1904.

Taksonomi Nudibranchia masih berevolusi.

[sunting] Referensi

  • H. Wägele and R. C. Willan (September 2000). "Phylogeny of the Nudibranchia". Zoological Journal of the Linnean Society 1 (1): 83–181.
  • Wikipedia Indonesia

Kamis, 28 Agustus 2008

Peran Teripang di Bidang Farmasea

Teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat.

Di dalam jurnal-jurnal internasional, istilah trepang atau beche-de-mer tidak pernah dipakai dalam topik-topik keanegaragaman, biologi, ekologi maupun taksonomi. Dalam subyek-subyek ini, terminologi yang dipakai untuk menggambarkan kelompok hewan ini adalah sea cucumbers atau holothurians (disebut holothurians karena hewan ini dimasukkan dalam kelas Holothuroidea). Kelompok timun laut yang ada di dunia ini lebih dari 1200 jenis, dan sekitar 30 jenis di antaranya adalah kelompok teripang.

Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat kering sedimen setiap harinya.

Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), teripang koro (Microthele nobelis), teripang pandan (Theenota ananas), teripang dongnga (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya.

Biota laut Di bidang farmasi teripang juga banyak manfaatnya. Actynopyga agassizii digunakan sebagai hemolotik dan anti kanker dari produk holothurinnya (Soediro dan Padmawinata, 2000). Nigrelli et al. (1955) dalam Doezema (1969) mengidentifikasi holothurin, suatu toksin yang terdapat pada mentimun laut Actynopyga agassizii, dikenal sebagai steroid glycoside atau saponin. Zat tersebut dihidrolisis dan difraksinasi kedalam campuran beberapa steroid aglycone dan gula. Terdapat 4 steroid aglycone yang masing-masing mempunyai cincin quinovose, 3 -0-methyl glucose, glucose dan xilose. Xylose terikat pada molekul steroid yang diduga hydroxyl group pada C3. Meskipun saponin biasanya merupakan produk tumbuhan, mentimun laut dikenal sebagai hewan pertama yang menghasilkan saponin ini.

Holothurin bersifat stabil terhadap panas, saponin steroid aktif yang terdapat pada cuverian organ dan jaringan lain pada mentimun laut dari Bahama ( Boolothian, 1966 dalam Fänge, 1969) Actynopyga agassizii. Bahan bioaktif yang sama juga ditemukan pada beberapa jenis mentimun laut yang lain (Arvy, 1954 dalam Fänge, 1969). Berat molekul holothurin berkisar 1150. Zat ini bersifat sangat toksik bagi hewan lain dan mempunyai efek antitumor (Fänge, 1969) dan mempunyai sifat hemolitik kuat. Saponin juga terdapat pada kulit mentimun laut jenis H. atra dan cuverian tubule dari Bohadschia sp. di Laut Pasifik (Adam, 1993). Selanjutnya dikatakan, dengan beragamnya jenis mentimun laut ini maka akan menarik bio-prospektor untuk menggali kemungkinan dimanfaatkannya mentimun laut ini untuk menghasilkan zat-zat yang berguna bagi farmakologi. Percobaan penggunaan holothurin yang diambil dari cairan mentimun laut telah dilakukan oleh Fao (1990). Holothurin bersifat thermo-stabil dan digunakan sebagai anti fungi pada ikan tilapia.

Jumat, 15 Agustus 2008

Drugs from the Sea

Marine organisms have attracted much attention as potential sources for drugs over recent years. This timely book covers the discovery, development and production of drugs from marine bacteria, fungi, microalgae, sponges and opisthobranch mollusks. A recent highlight of marine natural product research described here is the development of a painkilling drug from the venom of a sea snail. Detailed accounts are also given on a novel anticancer drug, which was first isolated from a sponge, and a potential antiosteoporotic drug of hexacoral origin. The main challenge for future new drugs from the sea remains supply, but with production by fermentation and aquaculture two promising solutions are presented. The paper dealing with the identification and culture of symbiotic bacteria responsible for the production of bioactive sponge metabolites will make valuable reading for many researchers.
'Drugs from the Sea' will be of special interest to marine ecologists, chemists, and pharmacologists involved in drug development.

Marine Biotechnology

Humankind has always depended on the sea -- for food, for medicinal treatments, for wealth. Now the new science of biotechnology has created new exciting possibilities for making the most of the ocean's bounty and for developing products never before associated with the sea. Biotechnologists use living organisms (or parts of organisms) to make or modify products, to improve plants or animals or to develop microorganisms for beneficial uses, including the development of materials that mimic molecular structures or functions of living organisms. Marine organisms, in particular, represent great phylogenetic diversity, making them reservoirs of unique genetic information and important natural resources for possible development. Exploratory research shows the great potential for exploiting the biochemical capabilities of marine organisms to provide models for new classes of pharmaceuticals, polymers, enzymes, other chemical products, and industrial processes, as well as vaccines, diagnostic and analytical reagents and genetically altered organisms for aquaculture and the seafood industry. Marine biotechology is also providing new tools and approaches for determining water quality and for understanding ecological relationships among marine organisms and for defining fisheries and stocks that will help improve marine resource management.

Collaborators are sought for this Topic. If you are interested, please click on Become a joint editor.

Minggu, 18 Mei 2008

Meracik Obat Dari Kedalaman Laut

Oleh Hosea S. Handoyo
Mahasiswa Life Sciences tk.II Hogeschool van Arnhem en Nijmegen, Belanda


Bagi Tadeuz Molinski, laut adalah sumber kekayaan tak terbatas, bukan hanya di bidang perikanan dan sebagai sumber minyak bumi, tetapi juga sumber obat-obatan. Profesor kimia di University of California ini tengah melakukan penelitian untuk mencari obat kanker dan penyakit menular lainnya dari makhluk spongia (sponge/spons).

Ia melihat bahan-bahan alami dari organisme laut dapat menjadi salah satu sumber obat-obatan di dunia farmasi. Obat-obatan yang ada saat ini, mulai dari aspirin hingga penurun kolesterol, diracik dari tetumbuhan atau bakteri. Molinski yakin perkembangan modern di bidang kimia analitis dapat mendukung penelitiannya.

Sampel Molinski kebanyakan berasal dari organisme spons, tunicates (makhluk laut yang tidak dapat berenang dan menggigit), dan cyanobakter. Beberapa ekstrak yang dihasilkan memiliki aktivitas biokimia yang berguna dalam membunuh bakteri, menekan pertumbuhan sel kanker, dan mengatur metabolisme kalsium.

Produk farmasi kelautan memiliki ikatan yang kuat dalam karakteristik metabolisme lemak dan protein. Hal ini jauh berbeda dengan karakteristik yang didapat para ahli dari tetumbuhan dan hewan darat. Organisme laut berevolusi dengan kondisi yang jauh berbeda sehingga cara mereka memproduksi enzim dan protein pun berbeda pula. Secara kimia, enzim dan protein tersebut memiliki karakteristik yang masih perlu didalami secara analitis.

Salah satu kesuksesan penelitiannya adalah phorboxazole. Phorboxazole adalah ekstrak spons Samudera Hindia Australia yang mampu menekan pertumbuhan sel tumor pada konsentrasi rendah sekalipun. Zat itu juga bersifat anti-karsinogenik yang mampu mencegah pertumbuhan sel kanker sejak dini. Molinski percaya bahwa phorboxazole masih memiliki kemampuan medis lainnya yang belum diketahui.

Penelitian Molinski juga menekankan pencarian obat yang dapat secara efektif mengontrol aktivitas kalsium. Metabolisme kalsium berperan besar dalam proses selular mulai dari pembentukan respon sel, pendukung kegiatan enzimatis, mengubah bentuk sel, hingga memicu pembelahan sel. Kalsium terbukti memiliki peran yang besar dalam transplantasi organ hingga penanganan jantung koroner. Hingga saat ini, Molinski mendapatkan senyawa Xestospongin C yang mampu mengatur transportasi kalsium.

Pada banyak kasus, para ahli tidak mampu menjelaskan mengapa organisme laut membuat senyawa-senyawa tersebut. Molinski menambahkan mungkin akan didapat lebih banyak lagi ekstrak obat-obatan yang dapat meningkatkan nilai hidup manusia di masa datang.

Secara ekonomis, meracik obat-obatan dari organisme kelautan menghadapi tantangan yang serius karena proses ekstraksi yang cukup mahal. Hal ini diharapkan mampu diselesaikan dengan perkembangan instrumen kimia analitis masa kini.

Penelitian ini seperti bermain teka-teki silang di mana para ahli kimia dan biokimia harus menerapkan kemampuannya secara luas untuk menemukan petunjuk akan senyawa-senyawa yang menguntungkan manusia.

(Disarikan dari artikel di Science Daily)

Drugs From The Deep Blue

ScienceDaily (Jun. 3, 2005) — For Tadeusz Molinski, the sea is full of riches -- and he does not mean oil fields or fisheries. Molinski, a professor of chemistry at the University of California, Davis, is searching for new treatments for cancer, infectious diseases and other conditions that could be made from natural products in the soft bodies of some of the ocean's simplest inhabitants.

"Three quarters of the world is covered by oceans, and we've only dipped below the surface," Molinski said.

This chemist sees natural products from marine organisms as an opportunity to answer questions in biology and find potential leads for the next generation of drugs, whether those are anti-fungals or treatments for cancer. Many pharmaceutical drugs on the market, from aspirin to cholesterol-lowering "statins," are derived from natural products such as plants or bacteria. Molinski says modern developments in analytical chemistry, including highly sensitive instrumentation, sophisticated screening capabilities and discoveries from mapping the human genome, have created a renaissance of interest in these sources of potential medicines.

Molinski's laboratory studies the chemistry and biology of marine natural products, or chemical compounds made by sea creatures. It is part of a developing focus on pharmaceutical chemistry within the UC Davis chemistry department, including research on biologically active molecules and high-throughput screening techniques.

Most of Molinski's samples come from sponges and tunicates, marine creatures that can neither swim away from a diver nor bite. Recently, the researchers have also begun to collect samples from cyanobacteria, single-celled organisms that occur as slimy mats or filaments in places such as coral reefs and mangrove lagoons.

Some of these compounds have biochemical activities that could be useful in medicine -- killing microbes, stopping growth of cancer cells, or affecting the flow of calcium in and out of cells.

Marine natural products are an eclectic mix of chemical types, drawing on all the pathways of metabolism, Molinski said. Some are related to fats and proteins; others include elements such as bromine, sometimes bonded into improbable structures.

"It's a rich, complex and edited chemical library," Molinski said. "They're really fascinating little jewels made by niche creatures."

As well as being largely unexplored, the chemistry of these marine organisms is very different than that of land plants and animals, reflecting both a different environment and millions of years of separate evolution. That should make it harder for microbes to evolve resistance to such drugs, as they are being attacked from a completely different direction.

Molinski, a certified diver, and his graduate students make regular collecting trips to study sites in Micronesia, Western Australia and -- using a seagoing vessel, the R/V Seward Johnson based in Florida -- the Atlantic Ocean around the Bahamas. Warm tropical waters support a wider variety of sponges, making them richer prospecting grounds.

Back in the lab, the scientists put extracts from the animals they have collected through a battery of tests. If they find something with interesting properties, the researchers attempt to isolate and identify the molecule.

The next step is to start from conventional chemistry and make the compound in the lab, then try to find the simplest structure with the same properties. This work can pull in techniques from different areas of chemistry and biochemistry, but the pathways used to make these products naturally are far too complex to reproduce with current genetic engineering techniques, Molinski said.

One of their finds is phorboxazole, made by an Indian Ocean sponge collected by Molinski's team off the coast of Western Australia. Phorboxazole A is a potent toxin that in the laboratory, can inhibit the growth of a wide range of tumor cell types even at very low concentrations. It appears to block cancer cells from dividing at a different, earlier step than that targeted by other clinically important anticancer drugs.

"It uses a different mechanism to any known drug, it's unlike anything else," Molinski said.

Chemists are now investigating phorboxazole and related compounds to see if they can be made more efficiently.

"It's excited a lot of chemists and cancer biologists," Molinski said.

Molinski's group has also gone fishing for drugs that modulate calcium channels within cells, in collaboration with Isaac Pessah, professor and director of the Center for Children's Environmental Health at the UC Davis School of Veterinary Medicine. The controlled release of calcium is a key step in many cellular processes.

"In any cell you can think of, calcium plays a role in shaping responses, activating or inhibiting enzymes, changing the shape of the cell, triggering cell division," Pessah said. Calcium is also a key signal in both fertilization and programmed cell death, he said. Pharmaceuticals that affect calcium channels range from drugs given to organ transplant patients to suppress the immune system, to treatments for high blood pressure and heart disease.

Pessah's research group works with calcium channel modulators and other biomolecules derived from plants and scorpion venom. But when Pessah and Molinski got to talking at a party some years ago, they quickly realized that they could apply the same methods to screen 124 sponges that Molinski's group had recently collected off the coast of Western Australia.

In one of the samples they came up with xestospongin C, the first of a class of drugs now widely used in research studies on calcium transport. Xestospongins block the ability of a signaling molecule called inositol 1,4,5 trisphosphate (IP3) to trigger the release of calcium within cells.

In most cases, scientists do not know why marine organisms make these compounds, Molinski said. As much as five percent of the animal may be made up of one compound -- a big investment of energy and resources.

Chemical ecology is the field of research that explores how natural products serve the organisms that produce or harbor them. The compounds could be chemical defenses to deter predators. For example, some fish "taste" food items before swallowing them, sometimes spitting the item out and sucking it back in several times before rejecting or eating it. Some could be natural anti-fouling agents that stop a creature that does not move, like a sponge, from being overgrown with other sea life. Others might be released into the seawater as pheromones to encourage larvae to join an existing colony, or to attract a mate.

Molinski's group is collaborating with Jay Stachowicz, assistant professor in the UC Davis Section of Evolution and Ecology and his graduate student, Amy Larson, at the Bodega Marine Laboratory, and with Joe Pawlik, a professor at the University of North Carolina at Wilmington, to address some of these questions.

Discovering natural products is a great training tool because it requires skills in all areas of chemistry and a wide view of allied disciplines, Molinski said.

"It's like a crossword puzzle where you have to find the clues," he said. "Natural products engage your intellectual curiosity with a sense of wonder that comes from standing at the shores of new worlds.

Jumat, 16 Mei 2008

Bunga Karang Dapat Mengobati Kanker?





Jakarta, Rabu

Kirim Teman | Print Artikel

ist
Sejenis bunga karang bernama hymeniacidon mungkin bisa digunakan untuk melawan kanker


Bunga karang yang diambil dari pulau-pulau karang di Wales bagian selatan mungkin menjadi sumber obat pelawan kanker payudara dan paru-paru, demikian kata para peneliti.

Sebuah tim dari Welsh School of Pharmacy menemukan bahwa ekstrak karang jenis Hymeniacidon mengandung senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan kanker. Senyawa obat dari organisme yang hidup di laut sebenarnya telah lama ditemukan pada spesies-spesies di daerah hangat atau tropis.

Pengujian awal di laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak yang berasal dari bunga karang sangat efektif mencegah pertumbuhan kanker payudara pada manusia dan deretan kecil sel kanker paru-paru. Pemimpin penelitian Dr. Alex White mengatakan bahwa untuk menguji khasiatnya, bunga karang dikeringkan kemudian ditumbuk menjadi bubuk.

Dengan demikian para ilmuwan dapat mengekstrak senyawa yang akan diuji pada sel kanker. Tapi, pada tahap ini masih belum jelas ekstrak bagian mana yang memiliki pengaruh positif. Penjelasan lebih rinci akan disampaikan dalam British Parmaceutical Conference.

Dr. White mengatakan bahwa bunga karang alias spons tersusun dari campuran kompleks berbagai senyawa. "Penelitian tahap selanjutnya adalah mencoba untuk mempelajari sifat senyawa alami yang mendorong proses anti pertumbuhan dan mengidentifikasi senyawa yang paling berperan untuk pengembangan lebih lanjut," katanya.

Menurutnya, menemukan ekstrak dari organisme laut, khususnya bunga karang, yang memiliki sifat seperti ini adalah suatu hal yang tidak biasa. Bunga-bunga karang di Inggris dan sifat-sifat medis yang terkandung di dalamnya belum diketahui secara luas dan menjadi potensi sumber obat baru.

Dr. Kat Arney dari Cancer Research, Inggris mengatakan, hewan dan tanaman yang berasal dari laut merupakan sumber yang kaya dengan potensi anti kanker. Penelitian ini menunjukkan adanya kemungkinan potensi obat baru yang tersembunyi dalam bunga-bunga karang di Inggris.

Meskipun demikian, penelitian ini masih dalam tahap permulaan dan baru dilakukan dalam skala laboratorium. Para ilmuwan harus menemukan molekul dalam bunga karang yang paling berperan melawan kanker berikut cara kerjanya. Selain itu, mereka juga harus memastikan khasiatnya untuk mengobati tumor pada manusia.

Dr. Sarah Rawlings dari lembaga amal Breakthrough Breast Cancer setuju dengan pendapat tersebut. Menurutnya, meskipun penelitian tersebut terdengar hebat, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa senyawa dari bunga karang dapat digunakan untuk mengobati pasien yang terkena kanker.

"Meskipun masih diperlukan cara lain, penelitian serupa masih diperlukan karena sangat penting untuk menemukan berbagai kemungkinan bentuk pengobatan baru di masa mendatang," katanya.


Sumber: bbc.co.uk
Penulis: Wah