Selasa, 20 Januari 2009

MIKROBA

Pengertian Mikroba
Jasad hidup yang ukurannya kecil sering disebut sebagai mikroba atau mikroorganisme atau jasad renik. Jasad renik disebut sebagai mikroba bukan hanya karena ukurannya yang kecil, sehingga sukar dilihat dengan mata biasa, tetapi juga pengaturan kehidupannya yang lebih sederhana dibandingkan dengan jasad tingkat tinggi. Mata biasa tidak dapat melihat jasad yang ukurannya kurang dari 0,1 mm. Ukuran mikroba biasanya dinyatakan dalam mikron ( ), 1 mikron adalah 0,001 mm. Sel mikroba umumnya hanya dapat dilihat dengan alat pembesar atau mikroskop, walaupun demikian ada mikroba yang berukuran besar sehingga dapat dilihat tanpa alat pembesar.

Mikrobiologi
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari mikroba. Mikrobiologi adalah salah satu cabang ilmu dari biologi, dan memerlukan ilmu pendukung kimia, fisika, dan biokimia. Mikrobiologi sering disebut ilmu praktek dari biokimia. Dalam mikrobiologi dasar diberikan pengertian dasar tentang sejarah penemuan mikroba, macam-macam mikroba di alam, struktur sel mikroba dan fungsinya, metabolisme mikroba secara umum, pertumbuhan mikroba dan faktor lingkungan, mikrobiologi terapan di bidang lingkungan dan pertanian. Mikrobiologi lanjut telah berkembang menjadi bermacammacam ilmu yaitu virologi, bakteriologi, mikologi, mikrobiologi pangan, mikrobiologi tanah, mikrobiologi industri, dan sebagainya yang mempelajari mikroba spesifik secara lebih rinci atau menurut kemanfaatannya.

MIKROBA PENYEBAB PENYAKIT
Pasteur menggunakan istilah khusus untuk mengatakan kerusakan pada minuman anggur oleh mikrobia, yaitu disebut penyakit Bir. Ia juga mempunyai dugaan kuat tentang adanya peran mikroba dalam menyebabkan timbulnya penyakit pada jasad tingkat tinggi. Bukti-buktinya adalah dengan ditemukannya jamur penyebab penyakit pada tanaman gandum (1813), tanaman kentang (1845), dan penyakit pada ulat sutera serta kulit manusia. Pada tahun 1850 diketahui bahwa dalam darah hewan yang sakit antraks, terdapat bakteri berbentuk batang. Davaine (1863-1868) membuktikan bahwa bakteri tersebut hanya terdapat pada hewan yang sakit, dan penularan buatan menggunakan darah hewan yang sakit pada hewan yang sehat dapat menimbulkan penyakit yang sama. Pembuktian bahwa antraks disebabkan oleh bakteri dilakukan oleh Robert Koch (1876), sehingga ditemukan “postulat Koch” yang merupakan langkah-langkah untuk
membuktikan bahwa suatu mikroba adalah penyebab penyakit. Postulat Koch dalam bentuk umum adalah sebagai berikut:
1. Suatu mikroba yang diduga sebagai penyebab penyakit harus ada pada setiap
tingkatan penyakit.
2. Mikroba tersebut dapat diisolasi dari jasad sakit dan ditumbuhkan dalam bentuk
biakan murni.
3. Apabila biakan murni tersebut disuntikkan pada hewan yang sehat dan peka, dapat
menimbulkan penyakit yang sama.
4. Mikrobia dapat diisolasi kembali dari jasad yang telah dijadikan sakit tersebut.

Referensi : SRI SUMARSIH.2003. MIKROBIOLOGI DASAR.JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN UPN”VETERAN” YOGYAKARTA

Antibiotik

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri atau virus. Penggunaan antibiotik khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman.

Antibiotik bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. Antibiotik berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup. Macam-macam antibiotik Antibiotik dapat digolongkan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut dan susunan kimiawinya. Ada enam kelompok antibiotik[1] dilihat dari sasaran kerja (targetnya)(nama contoh diberikan menurut ejaan Inggris karena belum semua nama diindonesiakan atau diragukan pengindonesiaannya):

* Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan Cephalosporin, misalnya ampicillin, penicillin G;

* Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, misalnya rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid;

* Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline, misalnya gentamycin, chloramphenicol, kanamycin, streptomycin, tetracycline, oxytetracycline;

* Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;

* Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya oligomycin, tunicamycin; dan * Antimetabolit, misalnya azaserine.

Rabu, 14 Januari 2009

Kandungan Senyawa Kimia Mangrove Berpotensi Sebagai Obat

Eksplorasi kandungan kimia tumbuhan mangrove sangat diperlukan untuk menemukanagen-agen terapi baru dan informasi ini sangatlah penting bagi masyarakat. Ada dua alasan penting perlunya studi kandungan kimia tumbuhan mangrove. Pertama, mangrove merupakan salah satu hutan tropis yang mudah berkembang dan belum banyak termanfaatkan. Kedua, aspek kimia tumbuhan mangrove sangat penting karena potensinya untuk mengembangkan agrokimia dan senyawa bernilai medis. Beberapa senyawa metabolit baru-baru ini dengan struktur kimia dan tergolong salah satu diversitas dari ‘kelas-kelas kimia’ telah dikarakterisasi dari tumbuhan mangrove dan tumbuhan asosiasinya. Di antara yang terbaru ditemukan adalah gugus substansi dari getah dan perekat sampai senyawa alkaloid dan saponin dan beberapa senyawa lainnya yang terkait dengan industri obat-obatan, seperti halnya: derivat benzoquinone, naphthoquinone, naphthofurans, flavonoid, polyfenol, rotenone, flavoglican, sesquiterpene, di- dan triterpene, limonoid, minyakesensial, sterols, karbohidrat, o-metil inositol, gula, iridoid glikosida, alkaloid dan asam amino bebas, feromon, gibberellin, forbol ester, keterosiklik oksigen, senyawa sulfur, lemak dan hidrokarbon, alcohol alipatik rantai panjang dan lemak jenuh, asam lemak bebas termasuk PUFAs (asam lemak tak jenuh ganda). Selain itu mangrove kaya akan senyawa steroid, saponin, flavonoid dan tannin. Senyawa saponin dari tumbuhan adalah glikosida dari triterpene dan steroid, yang larut dalam air dan mempunyai kemampuan membentuk buih sabun bila dikocok di air. Penggunaan saponin sebagai deterjen alam dan racun ikan telah dikenal oleh masyarakat tradisional. Sifat farmatikal yang berhubungan dengan obat Cina ‘ginseng’ merupakan atribut dari senyawa saponin. Saponin tumbuhan seperti halnya dioscin, bernilai komersial setelah ditemukan sebagai bahan untuk hormone steroid sintetis (Correl, et al. 1955).
http://www.freewebs.com/irwantomangrove/mangrove_obat.pdf
Correll, D.S., B.G.Schubert, H.S. Gentry and W.D. Hawley. 1955. The search for plant precursors of cortisone. Economic Botany 52: 307-375. Kokpol, U., V. Chittawong, and H.D. Millis.

Nudibranch

Deskripsi

Nudibranch memiliki badan yang lembut. Bentuk dewasa tidak memiliki cangkang atau operculum.

Nudibranch umumnya menyimpan telur mereka dalam motif spiral.

Kata nudibranch berasal dari bahasa Latin nudus yang berarti telanjang, dan bahasa Yunani brankhia yang berarti insang.

Nudibranch memiliki kepala bertentakel, yang sangat sensitif terhadap sentuhan, rasa, dan bau. Rhinophore berbentuk seperti pentungan berperan untuk mendeteksi bau.

Mereka merupakan hewan hermafrodit, tetapi jarang melakukan fertilisasi sendiri.

Nudibranch adalah hewan karnivora. Beberapa memakan spons, yang lain hydroida, atau bryozoa, dan beberapa kanibal, memakan siput air lainnya, dan pada situasi tertentu, bahkan anggota spesies mereka sendiri.

Bentuk tubuh bervariasi. Ukuran berkisar antara 40 hingga 600 mm.

Mereka terdapat di seluruh dunia pada semua kedalaman, tetapi mereka mencapai ukuran terbesar dan bervariasi pada perairan hangat dan dangkal.

Di antara mereka, dapat ditemukan makhluk paling berwarna-warni di bumi. Karena siput air, karena evolusi, telah kehilangan cangkang mereka, mereka perlu mencari cara melindungi diri: yaitu kamuflase, melalui warna yang membuat mereka tidak kelihatan atau menakuti predator karena mereka rasanya tidak enak atau beracun.

Taksonomi

"Nudibranchia", dari Ernst Haeckel's Artforms of Nature, 1904.

Taksonomi Nudibranchia masih berevolusi.

[sunting] Referensi

  • H. Wägele and R. C. Willan (September 2000). "Phylogeny of the Nudibranchia". Zoological Journal of the Linnean Society 1 (1): 83–181.
  • Wikipedia Indonesia

Kamis, 28 Agustus 2008

Peran Teripang di Bidang Farmasea

Teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat.

Di dalam jurnal-jurnal internasional, istilah trepang atau beche-de-mer tidak pernah dipakai dalam topik-topik keanegaragaman, biologi, ekologi maupun taksonomi. Dalam subyek-subyek ini, terminologi yang dipakai untuk menggambarkan kelompok hewan ini adalah sea cucumbers atau holothurians (disebut holothurians karena hewan ini dimasukkan dalam kelas Holothuroidea). Kelompok timun laut yang ada di dunia ini lebih dari 1200 jenis, dan sekitar 30 jenis di antaranya adalah kelompok teripang.

Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat kering sedimen setiap harinya.

Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), teripang koro (Microthele nobelis), teripang pandan (Theenota ananas), teripang dongnga (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya.

Biota laut Di bidang farmasi teripang juga banyak manfaatnya. Actynopyga agassizii digunakan sebagai hemolotik dan anti kanker dari produk holothurinnya (Soediro dan Padmawinata, 2000). Nigrelli et al. (1955) dalam Doezema (1969) mengidentifikasi holothurin, suatu toksin yang terdapat pada mentimun laut Actynopyga agassizii, dikenal sebagai steroid glycoside atau saponin. Zat tersebut dihidrolisis dan difraksinasi kedalam campuran beberapa steroid aglycone dan gula. Terdapat 4 steroid aglycone yang masing-masing mempunyai cincin quinovose, 3 -0-methyl glucose, glucose dan xilose. Xylose terikat pada molekul steroid yang diduga hydroxyl group pada C3. Meskipun saponin biasanya merupakan produk tumbuhan, mentimun laut dikenal sebagai hewan pertama yang menghasilkan saponin ini.

Holothurin bersifat stabil terhadap panas, saponin steroid aktif yang terdapat pada cuverian organ dan jaringan lain pada mentimun laut dari Bahama ( Boolothian, 1966 dalam Fänge, 1969) Actynopyga agassizii. Bahan bioaktif yang sama juga ditemukan pada beberapa jenis mentimun laut yang lain (Arvy, 1954 dalam Fänge, 1969). Berat molekul holothurin berkisar 1150. Zat ini bersifat sangat toksik bagi hewan lain dan mempunyai efek antitumor (Fänge, 1969) dan mempunyai sifat hemolitik kuat. Saponin juga terdapat pada kulit mentimun laut jenis H. atra dan cuverian tubule dari Bohadschia sp. di Laut Pasifik (Adam, 1993). Selanjutnya dikatakan, dengan beragamnya jenis mentimun laut ini maka akan menarik bio-prospektor untuk menggali kemungkinan dimanfaatkannya mentimun laut ini untuk menghasilkan zat-zat yang berguna bagi farmakologi. Percobaan penggunaan holothurin yang diambil dari cairan mentimun laut telah dilakukan oleh Fao (1990). Holothurin bersifat thermo-stabil dan digunakan sebagai anti fungi pada ikan tilapia.

Jumat, 15 Agustus 2008

Drugs from the Sea

Marine organisms have attracted much attention as potential sources for drugs over recent years. This timely book covers the discovery, development and production of drugs from marine bacteria, fungi, microalgae, sponges and opisthobranch mollusks. A recent highlight of marine natural product research described here is the development of a painkilling drug from the venom of a sea snail. Detailed accounts are also given on a novel anticancer drug, which was first isolated from a sponge, and a potential antiosteoporotic drug of hexacoral origin. The main challenge for future new drugs from the sea remains supply, but with production by fermentation and aquaculture two promising solutions are presented. The paper dealing with the identification and culture of symbiotic bacteria responsible for the production of bioactive sponge metabolites will make valuable reading for many researchers.
'Drugs from the Sea' will be of special interest to marine ecologists, chemists, and pharmacologists involved in drug development.

Marine Biotechnology

Humankind has always depended on the sea -- for food, for medicinal treatments, for wealth. Now the new science of biotechnology has created new exciting possibilities for making the most of the ocean's bounty and for developing products never before associated with the sea. Biotechnologists use living organisms (or parts of organisms) to make or modify products, to improve plants or animals or to develop microorganisms for beneficial uses, including the development of materials that mimic molecular structures or functions of living organisms. Marine organisms, in particular, represent great phylogenetic diversity, making them reservoirs of unique genetic information and important natural resources for possible development. Exploratory research shows the great potential for exploiting the biochemical capabilities of marine organisms to provide models for new classes of pharmaceuticals, polymers, enzymes, other chemical products, and industrial processes, as well as vaccines, diagnostic and analytical reagents and genetically altered organisms for aquaculture and the seafood industry. Marine biotechology is also providing new tools and approaches for determining water quality and for understanding ecological relationships among marine organisms and for defining fisheries and stocks that will help improve marine resource management.

Collaborators are sought for this Topic. If you are interested, please click on Become a joint editor.