Kamis, 28 Agustus 2008

Peran Teripang di Bidang Farmasea

Teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat.

Di dalam jurnal-jurnal internasional, istilah trepang atau beche-de-mer tidak pernah dipakai dalam topik-topik keanegaragaman, biologi, ekologi maupun taksonomi. Dalam subyek-subyek ini, terminologi yang dipakai untuk menggambarkan kelompok hewan ini adalah sea cucumbers atau holothurians (disebut holothurians karena hewan ini dimasukkan dalam kelas Holothuroidea). Kelompok timun laut yang ada di dunia ini lebih dari 1200 jenis, dan sekitar 30 jenis di antaranya adalah kelompok teripang.

Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat kering sedimen setiap harinya.

Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), teripang koro (Microthele nobelis), teripang pandan (Theenota ananas), teripang dongnga (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya.

Biota laut Di bidang farmasi teripang juga banyak manfaatnya. Actynopyga agassizii digunakan sebagai hemolotik dan anti kanker dari produk holothurinnya (Soediro dan Padmawinata, 2000). Nigrelli et al. (1955) dalam Doezema (1969) mengidentifikasi holothurin, suatu toksin yang terdapat pada mentimun laut Actynopyga agassizii, dikenal sebagai steroid glycoside atau saponin. Zat tersebut dihidrolisis dan difraksinasi kedalam campuran beberapa steroid aglycone dan gula. Terdapat 4 steroid aglycone yang masing-masing mempunyai cincin quinovose, 3 -0-methyl glucose, glucose dan xilose. Xylose terikat pada molekul steroid yang diduga hydroxyl group pada C3. Meskipun saponin biasanya merupakan produk tumbuhan, mentimun laut dikenal sebagai hewan pertama yang menghasilkan saponin ini.

Holothurin bersifat stabil terhadap panas, saponin steroid aktif yang terdapat pada cuverian organ dan jaringan lain pada mentimun laut dari Bahama ( Boolothian, 1966 dalam Fänge, 1969) Actynopyga agassizii. Bahan bioaktif yang sama juga ditemukan pada beberapa jenis mentimun laut yang lain (Arvy, 1954 dalam Fänge, 1969). Berat molekul holothurin berkisar 1150. Zat ini bersifat sangat toksik bagi hewan lain dan mempunyai efek antitumor (Fänge, 1969) dan mempunyai sifat hemolitik kuat. Saponin juga terdapat pada kulit mentimun laut jenis H. atra dan cuverian tubule dari Bohadschia sp. di Laut Pasifik (Adam, 1993). Selanjutnya dikatakan, dengan beragamnya jenis mentimun laut ini maka akan menarik bio-prospektor untuk menggali kemungkinan dimanfaatkannya mentimun laut ini untuk menghasilkan zat-zat yang berguna bagi farmakologi. Percobaan penggunaan holothurin yang diambil dari cairan mentimun laut telah dilakukan oleh Fao (1990). Holothurin bersifat thermo-stabil dan digunakan sebagai anti fungi pada ikan tilapia.

Jumat, 15 Agustus 2008

Drugs from the Sea

Marine organisms have attracted much attention as potential sources for drugs over recent years. This timely book covers the discovery, development and production of drugs from marine bacteria, fungi, microalgae, sponges and opisthobranch mollusks. A recent highlight of marine natural product research described here is the development of a painkilling drug from the venom of a sea snail. Detailed accounts are also given on a novel anticancer drug, which was first isolated from a sponge, and a potential antiosteoporotic drug of hexacoral origin. The main challenge for future new drugs from the sea remains supply, but with production by fermentation and aquaculture two promising solutions are presented. The paper dealing with the identification and culture of symbiotic bacteria responsible for the production of bioactive sponge metabolites will make valuable reading for many researchers.
'Drugs from the Sea' will be of special interest to marine ecologists, chemists, and pharmacologists involved in drug development.

Marine Biotechnology

Humankind has always depended on the sea -- for food, for medicinal treatments, for wealth. Now the new science of biotechnology has created new exciting possibilities for making the most of the ocean's bounty and for developing products never before associated with the sea. Biotechnologists use living organisms (or parts of organisms) to make or modify products, to improve plants or animals or to develop microorganisms for beneficial uses, including the development of materials that mimic molecular structures or functions of living organisms. Marine organisms, in particular, represent great phylogenetic diversity, making them reservoirs of unique genetic information and important natural resources for possible development. Exploratory research shows the great potential for exploiting the biochemical capabilities of marine organisms to provide models for new classes of pharmaceuticals, polymers, enzymes, other chemical products, and industrial processes, as well as vaccines, diagnostic and analytical reagents and genetically altered organisms for aquaculture and the seafood industry. Marine biotechology is also providing new tools and approaches for determining water quality and for understanding ecological relationships among marine organisms and for defining fisheries and stocks that will help improve marine resource management.

Collaborators are sought for this Topic. If you are interested, please click on Become a joint editor.