Kamis, 28 Agustus 2008

Peran Teripang di Bidang Farmasea

Teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat.

Di dalam jurnal-jurnal internasional, istilah trepang atau beche-de-mer tidak pernah dipakai dalam topik-topik keanegaragaman, biologi, ekologi maupun taksonomi. Dalam subyek-subyek ini, terminologi yang dipakai untuk menggambarkan kelompok hewan ini adalah sea cucumbers atau holothurians (disebut holothurians karena hewan ini dimasukkan dalam kelas Holothuroidea). Kelompok timun laut yang ada di dunia ini lebih dari 1200 jenis, dan sekitar 30 jenis di antaranya adalah kelompok teripang.

Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gram berat kering sedimen setiap harinya.

Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), teripang koro (Microthele nobelis), teripang pandan (Theenota ananas), teripang dongnga (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya.

Biota laut Di bidang farmasi teripang juga banyak manfaatnya. Actynopyga agassizii digunakan sebagai hemolotik dan anti kanker dari produk holothurinnya (Soediro dan Padmawinata, 2000). Nigrelli et al. (1955) dalam Doezema (1969) mengidentifikasi holothurin, suatu toksin yang terdapat pada mentimun laut Actynopyga agassizii, dikenal sebagai steroid glycoside atau saponin. Zat tersebut dihidrolisis dan difraksinasi kedalam campuran beberapa steroid aglycone dan gula. Terdapat 4 steroid aglycone yang masing-masing mempunyai cincin quinovose, 3 -0-methyl glucose, glucose dan xilose. Xylose terikat pada molekul steroid yang diduga hydroxyl group pada C3. Meskipun saponin biasanya merupakan produk tumbuhan, mentimun laut dikenal sebagai hewan pertama yang menghasilkan saponin ini.

Holothurin bersifat stabil terhadap panas, saponin steroid aktif yang terdapat pada cuverian organ dan jaringan lain pada mentimun laut dari Bahama ( Boolothian, 1966 dalam Fänge, 1969) Actynopyga agassizii. Bahan bioaktif yang sama juga ditemukan pada beberapa jenis mentimun laut yang lain (Arvy, 1954 dalam Fänge, 1969). Berat molekul holothurin berkisar 1150. Zat ini bersifat sangat toksik bagi hewan lain dan mempunyai efek antitumor (Fänge, 1969) dan mempunyai sifat hemolitik kuat. Saponin juga terdapat pada kulit mentimun laut jenis H. atra dan cuverian tubule dari Bohadschia sp. di Laut Pasifik (Adam, 1993). Selanjutnya dikatakan, dengan beragamnya jenis mentimun laut ini maka akan menarik bio-prospektor untuk menggali kemungkinan dimanfaatkannya mentimun laut ini untuk menghasilkan zat-zat yang berguna bagi farmakologi. Percobaan penggunaan holothurin yang diambil dari cairan mentimun laut telah dilakukan oleh Fao (1990). Holothurin bersifat thermo-stabil dan digunakan sebagai anti fungi pada ikan tilapia.

Jumat, 15 Agustus 2008

Drugs from the Sea

Marine organisms have attracted much attention as potential sources for drugs over recent years. This timely book covers the discovery, development and production of drugs from marine bacteria, fungi, microalgae, sponges and opisthobranch mollusks. A recent highlight of marine natural product research described here is the development of a painkilling drug from the venom of a sea snail. Detailed accounts are also given on a novel anticancer drug, which was first isolated from a sponge, and a potential antiosteoporotic drug of hexacoral origin. The main challenge for future new drugs from the sea remains supply, but with production by fermentation and aquaculture two promising solutions are presented. The paper dealing with the identification and culture of symbiotic bacteria responsible for the production of bioactive sponge metabolites will make valuable reading for many researchers.
'Drugs from the Sea' will be of special interest to marine ecologists, chemists, and pharmacologists involved in drug development.

Marine Biotechnology

Humankind has always depended on the sea -- for food, for medicinal treatments, for wealth. Now the new science of biotechnology has created new exciting possibilities for making the most of the ocean's bounty and for developing products never before associated with the sea. Biotechnologists use living organisms (or parts of organisms) to make or modify products, to improve plants or animals or to develop microorganisms for beneficial uses, including the development of materials that mimic molecular structures or functions of living organisms. Marine organisms, in particular, represent great phylogenetic diversity, making them reservoirs of unique genetic information and important natural resources for possible development. Exploratory research shows the great potential for exploiting the biochemical capabilities of marine organisms to provide models for new classes of pharmaceuticals, polymers, enzymes, other chemical products, and industrial processes, as well as vaccines, diagnostic and analytical reagents and genetically altered organisms for aquaculture and the seafood industry. Marine biotechology is also providing new tools and approaches for determining water quality and for understanding ecological relationships among marine organisms and for defining fisheries and stocks that will help improve marine resource management.

Collaborators are sought for this Topic. If you are interested, please click on Become a joint editor.

Minggu, 18 Mei 2008

Meracik Obat Dari Kedalaman Laut

Oleh Hosea S. Handoyo
Mahasiswa Life Sciences tk.II Hogeschool van Arnhem en Nijmegen, Belanda


Bagi Tadeuz Molinski, laut adalah sumber kekayaan tak terbatas, bukan hanya di bidang perikanan dan sebagai sumber minyak bumi, tetapi juga sumber obat-obatan. Profesor kimia di University of California ini tengah melakukan penelitian untuk mencari obat kanker dan penyakit menular lainnya dari makhluk spongia (sponge/spons).

Ia melihat bahan-bahan alami dari organisme laut dapat menjadi salah satu sumber obat-obatan di dunia farmasi. Obat-obatan yang ada saat ini, mulai dari aspirin hingga penurun kolesterol, diracik dari tetumbuhan atau bakteri. Molinski yakin perkembangan modern di bidang kimia analitis dapat mendukung penelitiannya.

Sampel Molinski kebanyakan berasal dari organisme spons, tunicates (makhluk laut yang tidak dapat berenang dan menggigit), dan cyanobakter. Beberapa ekstrak yang dihasilkan memiliki aktivitas biokimia yang berguna dalam membunuh bakteri, menekan pertumbuhan sel kanker, dan mengatur metabolisme kalsium.

Produk farmasi kelautan memiliki ikatan yang kuat dalam karakteristik metabolisme lemak dan protein. Hal ini jauh berbeda dengan karakteristik yang didapat para ahli dari tetumbuhan dan hewan darat. Organisme laut berevolusi dengan kondisi yang jauh berbeda sehingga cara mereka memproduksi enzim dan protein pun berbeda pula. Secara kimia, enzim dan protein tersebut memiliki karakteristik yang masih perlu didalami secara analitis.

Salah satu kesuksesan penelitiannya adalah phorboxazole. Phorboxazole adalah ekstrak spons Samudera Hindia Australia yang mampu menekan pertumbuhan sel tumor pada konsentrasi rendah sekalipun. Zat itu juga bersifat anti-karsinogenik yang mampu mencegah pertumbuhan sel kanker sejak dini. Molinski percaya bahwa phorboxazole masih memiliki kemampuan medis lainnya yang belum diketahui.

Penelitian Molinski juga menekankan pencarian obat yang dapat secara efektif mengontrol aktivitas kalsium. Metabolisme kalsium berperan besar dalam proses selular mulai dari pembentukan respon sel, pendukung kegiatan enzimatis, mengubah bentuk sel, hingga memicu pembelahan sel. Kalsium terbukti memiliki peran yang besar dalam transplantasi organ hingga penanganan jantung koroner. Hingga saat ini, Molinski mendapatkan senyawa Xestospongin C yang mampu mengatur transportasi kalsium.

Pada banyak kasus, para ahli tidak mampu menjelaskan mengapa organisme laut membuat senyawa-senyawa tersebut. Molinski menambahkan mungkin akan didapat lebih banyak lagi ekstrak obat-obatan yang dapat meningkatkan nilai hidup manusia di masa datang.

Secara ekonomis, meracik obat-obatan dari organisme kelautan menghadapi tantangan yang serius karena proses ekstraksi yang cukup mahal. Hal ini diharapkan mampu diselesaikan dengan perkembangan instrumen kimia analitis masa kini.

Penelitian ini seperti bermain teka-teki silang di mana para ahli kimia dan biokimia harus menerapkan kemampuannya secara luas untuk menemukan petunjuk akan senyawa-senyawa yang menguntungkan manusia.

(Disarikan dari artikel di Science Daily)

Drugs From The Deep Blue

ScienceDaily (Jun. 3, 2005) — For Tadeusz Molinski, the sea is full of riches -- and he does not mean oil fields or fisheries. Molinski, a professor of chemistry at the University of California, Davis, is searching for new treatments for cancer, infectious diseases and other conditions that could be made from natural products in the soft bodies of some of the ocean's simplest inhabitants.

"Three quarters of the world is covered by oceans, and we've only dipped below the surface," Molinski said.

This chemist sees natural products from marine organisms as an opportunity to answer questions in biology and find potential leads for the next generation of drugs, whether those are anti-fungals or treatments for cancer. Many pharmaceutical drugs on the market, from aspirin to cholesterol-lowering "statins," are derived from natural products such as plants or bacteria. Molinski says modern developments in analytical chemistry, including highly sensitive instrumentation, sophisticated screening capabilities and discoveries from mapping the human genome, have created a renaissance of interest in these sources of potential medicines.

Molinski's laboratory studies the chemistry and biology of marine natural products, or chemical compounds made by sea creatures. It is part of a developing focus on pharmaceutical chemistry within the UC Davis chemistry department, including research on biologically active molecules and high-throughput screening techniques.

Most of Molinski's samples come from sponges and tunicates, marine creatures that can neither swim away from a diver nor bite. Recently, the researchers have also begun to collect samples from cyanobacteria, single-celled organisms that occur as slimy mats or filaments in places such as coral reefs and mangrove lagoons.

Some of these compounds have biochemical activities that could be useful in medicine -- killing microbes, stopping growth of cancer cells, or affecting the flow of calcium in and out of cells.

Marine natural products are an eclectic mix of chemical types, drawing on all the pathways of metabolism, Molinski said. Some are related to fats and proteins; others include elements such as bromine, sometimes bonded into improbable structures.

"It's a rich, complex and edited chemical library," Molinski said. "They're really fascinating little jewels made by niche creatures."

As well as being largely unexplored, the chemistry of these marine organisms is very different than that of land plants and animals, reflecting both a different environment and millions of years of separate evolution. That should make it harder for microbes to evolve resistance to such drugs, as they are being attacked from a completely different direction.

Molinski, a certified diver, and his graduate students make regular collecting trips to study sites in Micronesia, Western Australia and -- using a seagoing vessel, the R/V Seward Johnson based in Florida -- the Atlantic Ocean around the Bahamas. Warm tropical waters support a wider variety of sponges, making them richer prospecting grounds.

Back in the lab, the scientists put extracts from the animals they have collected through a battery of tests. If they find something with interesting properties, the researchers attempt to isolate and identify the molecule.

The next step is to start from conventional chemistry and make the compound in the lab, then try to find the simplest structure with the same properties. This work can pull in techniques from different areas of chemistry and biochemistry, but the pathways used to make these products naturally are far too complex to reproduce with current genetic engineering techniques, Molinski said.

One of their finds is phorboxazole, made by an Indian Ocean sponge collected by Molinski's team off the coast of Western Australia. Phorboxazole A is a potent toxin that in the laboratory, can inhibit the growth of a wide range of tumor cell types even at very low concentrations. It appears to block cancer cells from dividing at a different, earlier step than that targeted by other clinically important anticancer drugs.

"It uses a different mechanism to any known drug, it's unlike anything else," Molinski said.

Chemists are now investigating phorboxazole and related compounds to see if they can be made more efficiently.

"It's excited a lot of chemists and cancer biologists," Molinski said.

Molinski's group has also gone fishing for drugs that modulate calcium channels within cells, in collaboration with Isaac Pessah, professor and director of the Center for Children's Environmental Health at the UC Davis School of Veterinary Medicine. The controlled release of calcium is a key step in many cellular processes.

"In any cell you can think of, calcium plays a role in shaping responses, activating or inhibiting enzymes, changing the shape of the cell, triggering cell division," Pessah said. Calcium is also a key signal in both fertilization and programmed cell death, he said. Pharmaceuticals that affect calcium channels range from drugs given to organ transplant patients to suppress the immune system, to treatments for high blood pressure and heart disease.

Pessah's research group works with calcium channel modulators and other biomolecules derived from plants and scorpion venom. But when Pessah and Molinski got to talking at a party some years ago, they quickly realized that they could apply the same methods to screen 124 sponges that Molinski's group had recently collected off the coast of Western Australia.

In one of the samples they came up with xestospongin C, the first of a class of drugs now widely used in research studies on calcium transport. Xestospongins block the ability of a signaling molecule called inositol 1,4,5 trisphosphate (IP3) to trigger the release of calcium within cells.

In most cases, scientists do not know why marine organisms make these compounds, Molinski said. As much as five percent of the animal may be made up of one compound -- a big investment of energy and resources.

Chemical ecology is the field of research that explores how natural products serve the organisms that produce or harbor them. The compounds could be chemical defenses to deter predators. For example, some fish "taste" food items before swallowing them, sometimes spitting the item out and sucking it back in several times before rejecting or eating it. Some could be natural anti-fouling agents that stop a creature that does not move, like a sponge, from being overgrown with other sea life. Others might be released into the seawater as pheromones to encourage larvae to join an existing colony, or to attract a mate.

Molinski's group is collaborating with Jay Stachowicz, assistant professor in the UC Davis Section of Evolution and Ecology and his graduate student, Amy Larson, at the Bodega Marine Laboratory, and with Joe Pawlik, a professor at the University of North Carolina at Wilmington, to address some of these questions.

Discovering natural products is a great training tool because it requires skills in all areas of chemistry and a wide view of allied disciplines, Molinski said.

"It's like a crossword puzzle where you have to find the clues," he said. "Natural products engage your intellectual curiosity with a sense of wonder that comes from standing at the shores of new worlds.

Jumat, 16 Mei 2008

Bunga Karang Dapat Mengobati Kanker?





Jakarta, Rabu

Kirim Teman | Print Artikel

ist
Sejenis bunga karang bernama hymeniacidon mungkin bisa digunakan untuk melawan kanker


Bunga karang yang diambil dari pulau-pulau karang di Wales bagian selatan mungkin menjadi sumber obat pelawan kanker payudara dan paru-paru, demikian kata para peneliti.

Sebuah tim dari Welsh School of Pharmacy menemukan bahwa ekstrak karang jenis Hymeniacidon mengandung senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan kanker. Senyawa obat dari organisme yang hidup di laut sebenarnya telah lama ditemukan pada spesies-spesies di daerah hangat atau tropis.

Pengujian awal di laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak yang berasal dari bunga karang sangat efektif mencegah pertumbuhan kanker payudara pada manusia dan deretan kecil sel kanker paru-paru. Pemimpin penelitian Dr. Alex White mengatakan bahwa untuk menguji khasiatnya, bunga karang dikeringkan kemudian ditumbuk menjadi bubuk.

Dengan demikian para ilmuwan dapat mengekstrak senyawa yang akan diuji pada sel kanker. Tapi, pada tahap ini masih belum jelas ekstrak bagian mana yang memiliki pengaruh positif. Penjelasan lebih rinci akan disampaikan dalam British Parmaceutical Conference.

Dr. White mengatakan bahwa bunga karang alias spons tersusun dari campuran kompleks berbagai senyawa. "Penelitian tahap selanjutnya adalah mencoba untuk mempelajari sifat senyawa alami yang mendorong proses anti pertumbuhan dan mengidentifikasi senyawa yang paling berperan untuk pengembangan lebih lanjut," katanya.

Menurutnya, menemukan ekstrak dari organisme laut, khususnya bunga karang, yang memiliki sifat seperti ini adalah suatu hal yang tidak biasa. Bunga-bunga karang di Inggris dan sifat-sifat medis yang terkandung di dalamnya belum diketahui secara luas dan menjadi potensi sumber obat baru.

Dr. Kat Arney dari Cancer Research, Inggris mengatakan, hewan dan tanaman yang berasal dari laut merupakan sumber yang kaya dengan potensi anti kanker. Penelitian ini menunjukkan adanya kemungkinan potensi obat baru yang tersembunyi dalam bunga-bunga karang di Inggris.

Meskipun demikian, penelitian ini masih dalam tahap permulaan dan baru dilakukan dalam skala laboratorium. Para ilmuwan harus menemukan molekul dalam bunga karang yang paling berperan melawan kanker berikut cara kerjanya. Selain itu, mereka juga harus memastikan khasiatnya untuk mengobati tumor pada manusia.

Dr. Sarah Rawlings dari lembaga amal Breakthrough Breast Cancer setuju dengan pendapat tersebut. Menurutnya, meskipun penelitian tersebut terdengar hebat, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa senyawa dari bunga karang dapat digunakan untuk mengobati pasien yang terkena kanker.

"Meskipun masih diperlukan cara lain, penelitian serupa masih diperlukan karena sangat penting untuk menemukan berbagai kemungkinan bentuk pengobatan baru di masa mendatang," katanya.


Sumber: bbc.co.uk
Penulis: Wah

Organisme Laut di Fiji Kaya Obat-obatan


Kirim Teman | Print Artikel

ist
Spesies rumput laut merah di Fiji mengandung bahan obat-obatan yang berpotensi membunuh kanker, bakteri, dan HIV.

Berita Terkait:

Bunga Karang Dapat Mengobati Kanker

Para peneliti menemukan 10 struktur molekul baru yang mengandung bahan obat dari spesies rumput laut merah yang hidup pada karang dangkal di sepanjang garis pantai Fiji.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Biologi dari Georgia Institute of Technology Mark Hay menemukan bahwa beberapa senyawa alami ini memiliki kemampuan membunuh sel kanker, bakteri, dan virus HIV.

Dua senyawa yang ditemukan memperlihatkan perilaku yang melawan aktivitas bakteri yang resistan terhadap antibiotik Staphylococcus. Meskipun demikian, para peneliti belum mengetahui berapa besar konsentrasi senyawa yang dibutuhkan untuk membunuh bakteri berbahaya bagi manusia.

Senyawa yang diisolasi dalam jumlah besar - diberi nama bromophycolide A oleh para peneliti - membunuh sel tumor pada manusia dengan cara membentuk program kematian bagi sel yang disebut apoptosis. Mekanisme ini dapat digunakan untuk mengembangkan obat antikanker.

Tiga dari senyawa yang ditemukan - disebut produk alami diterpene-benzoate - dilaporkan dalam jurnal Organik Letters yang diterbitkan American Chemical Society edisi online 12 Oktober. Sedangkan informasi tentang senyawa lainnya akan dipublikasikan menyusul.

"Kami masih dalam tahap pengujian laboratorium sampai sekarang," kata Julia Kabanek, asisten profesor biologi, kimia, dan biokimia di Georgia Tech yang merupakan penulis utama laporan ini. "Langkah selanjutnya adalah menemukan cara kerja senyawa ini kemudian mempelajarinya dengan model sistem yang lebih kompleks," lanjutnya.

Untuk mengetahui kemampuan molekul-molekul tersebut, Hay, Kubanek, dan koleganya mengumpulkan sampel spesies karang yang menunjukkan pertumbuhan dan perilaku yang tidak biasa. Di antaranya adalah karang halus, spons laut, siput, serta rumput laut hijau, merah, dan coklat.

Di laboratorium, para peneliti mengekstrak organisme ini menggunakan cairan campuran organik yang akan membuka sel organisme dan menghasilkan produk natural. Cairan organik kemudian diambil dari ekstrak dengan cara diuapkan. Sejumlah kecil setiap ekstrak kemudian diuji untuk melawan target misalnya parasit malaria, bakteri penyebab TBC, dan kanker.

Rumput laut merah Callophycus adalah salah satu dari lima spesies pertama yang diteliti kandungan senyawa obat-obatannya. Anne Prusak dari Geogia Tech dan teknisi riset memisahkan molekul-molekul baru dengan komponen lain yang diekstrak dengan proses kromatografi sehingga dapat diteliti karakteristik setiap senyawa.

Para peneliti kemudian menggunakan proses kristalografi sinar-X yang dilakukan di Emory University di Atlanta, nuclear magnetic resonance spectroscopy, dan analisis spektral massa untuk menentukan bagaimana karbon, hidrogen, oksigen, dan brom saling berikatan membentuk struktur molekul dari 10 produk alami yang baru ditemukan.

"Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan sebelum siap diformulasi menjadi obat," kata Kurbanek. Paling tidak diperlukan waktu sepuluh tahun untuk siap menjadi produk komersial.


Sumber: physorg.com/Eurekalert
Penulis: Wah

Profil Farmasea

PROFIL FARMASea

NAMA UKM

UKM farmasi ini bernama FARMA Sea.

HARI DAN TANGGAL BERDIRI

Selasa, 15 Januari 2008.

VISI

Sebagai kelompok mahasiswa peminat, pemerhati dengan tujuan penelitian di bidang farmasi laut.

MISI

1. Menggali potensi dan melakukan penelitian sumber daya laut dalam bidang farmasi laut.

2. Melaksanakan rencana yang telah disusun sebagai program kerja untuk mengembangkan ilmu di bidang farmasi laut.

3. Mengembangkan farmasi laut dengan melakukan kerja sama baik secara internal maupun external.

Pembina :

  1. Agus Trianto, ST,MSc
  2. Dr. Ir. Ambariyanto, MSc
  3. Dr. Ocky K Radjasa, MSc
  4. Dr. Ir. Agus Sabdono, MSc

Lambang :

Arti :

Cawan Petri: Sebuah wadah kreativitas mahasiswa.

Rantai DNA 17lekukan: Rantai DNA: Persatuan dan kesatuan DNA.

17 Lekukan : Jumlah Pengurus pertama FARMA Sea

Warna Dasar Biru : Warna umum laut melabangkan keteguhan hati dan kecintaan serta loyalitas para anggota yang sangat dalam.

Bintang : Cita-cita FARMA Sea menjadi yang terbaik di bidangnya dan tetap memegang teguh prinsip Ketuhanan YME.

Virus T: Mampu bertahan pada kondisi apapun. Bersikap dinamis, dan mampu beradaptasi pada perkembangan IPTEK.

Kaki virus berjumlah 4: Banyaknya pembina FARMA Sea yang siap membantu dan menyokong UKM serta sebagai Tut Wuri Handayani.

Pita Bertuliskan FARMA Sea: Identitas Organisasi.

Selain itu sebagai pengikat tali persaudaraan antar anggota.

Warna Bintang dan Pita Kuning Keemasan melambngkan keagungan UKM FARMA Sea.

Rantai DNA berwarna erah putih melabangkan keberanian dan kesucian, setasebagai wujud pengabdian kepada Bangsa dan Negara Indonesia dalam bidang IPTEK.

Cawan petri warna putih di kepala dan badan virus: kesucian dalam setippikiran dan tindakan organisasi.

Warna hitam pada kaki, untaian DNA, tulisan, pinggiran virus, dan pinggiran petri: Kepribadian yang teguh dan tegas dalam setiap tindakan.

Gambar Ular: sebagai kesehatan di bidang farmasi.

PROGRAM KERJA

Proker Jangka Pendek

1. Musyawarah Kerja

2. Pelatihan Laboratorium

3. Administrasi Anggota

4. Launching UKM

5. Pelatihan Pembuatan Karya Ilmiah dan Proposal Penelitian

6. Seminar Ilmiah Farma Sea

7. Penulisan Artikel

8. Pembuatan Data Base Ilmiah

9. Iuran Pokok : Rp. 5000,00 / bulan

Proker jangka Panjang

  1. Pengumpulan Jurnal-jurnal Ilmiah
  2. Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah
  3. Seminar Nasional
  4. Kerjasama External
  5. Penelitian Mandiri
  6. Pembuatan Situs

Struktur Pengurus Farmasea

SUSUNAN KEPENGURUSAN FARMASea

Ketua : Anton Timur Jaelani

Sekretaris : Dava Amrina

Bendahara : Faridhotun Khasanah

Departemen :

Litbang : Masyhari Fahmi A

Agung Setyo S

Eka Sari Noviana

Diklat : Muhammad Mutarom Yusuf

R. Agung Setyono

Humas : Dwi Sulistyaningsih

Ramang Febriatmaja

Kerjasama : Dian Afianto Nugroho

Abdul Ghofur

Rani Nur Anggraeni

Dana : Arumsari Uji P

Agung Sutrisno

Laboratorium dan Kepustakaan : Budi Dwi Nur I

R. Dian Prima Adi

Sejarah Berdirinya Farmasea

Sejarah berdirinya FarmaSea berawal dari gagasan untuk menmbangun UKM yang sudah lama tidak aktif dikarenakan sudah tidak adanya penerus dari UKM yang saat itu bernama Farmakologi. UKM Farmakologi ini sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 2001 namun seiring dengan berjalannya waktu, ternyata UKM ini tidak ada lagi anggota dan program kerja yang jelas. Sehingga UKM ini akhirnya hanya tinggal nama saja. Dari kondisi yang memprihatinkan inilah, maka sebagian mahasiswa jurusan Ilmu Kelautan angkatan 2006 yang awalnya terdiri dari 16 orang berinisiatif untuk membangun kembali Unit Kegiatan Mahasiswa yang memiliki prospek yang bagus untuk mengembangkan bidang bioteknologi dan farmasi dengan menggunakan bahan hayati dan non hayati yang berasal dari laut. Pada awal merealisasikan gagasan untuk membangun kembali UKM Farmakologi ini cukup sulit. Karena pencarian jati diri untuk membentuk karakter baru dari UKM yang akan dibentuk ini cukup memakan banyak waktu dan tenaga. Sebagai pembentukan karakter baru, maka nama Farmakologi ini diubah menjadi FARMASea. Yang berarti Obat dari Laut. Selain itu, untuk memperkuat jati diri maka dibuatlah symbol atau logo yang memiliki arti dan makna tertentu.

Setelah melalui proses penggodokan yang yang dirasa cukup maka UKM ini berdiri pada hari Selasa tanggal 15 Januari 2008 pukul 09.54 WIB, dengan jumlah Anggota 17 orang. Yang terdiri dari:

Ketua : Anton Timur Jaelani

Sekretaris : Dava Amrina

Bendahara : Faridhotun Khasanah

Departemen :

Litbang : Masyhari Fahmi A

Agung Setyo S

Diklat : Muhammad Mutarom Yusuf

R. Agung Setyono

Eka Sari Noviana

Humas : Dwi Sulistyaningsih

Ramang Febriatmaja

Kerjasama : Dian Afianto

Abdul Ghofur

Rani Nur Anggraeni

Dana : Arumsari Uji P

Agung Sutrisno

Laboratorium dan Kepustakaan : Budi Dwi Nur I

R. Dian Prima Adi

UKM FARMASea telah melakukan Grand Launching dan Seminar sehari dengan tema “Menggali Potensi Sumber Daya Laut Untuk Perkembangan Ilmu Farmasi” yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2008. Dengan memiliki empat orang pembimbing yakni Agus Trianto, ST,MSc, Dr. Ir. Ambariyanto, MSc, Dr. Ocky K Radjasa, MSc, dan Dr. Ir. Agus Sabdono, MSc maka semakin memperkuat keberadaan UKM FARMASEa yang merupakan penerus dari UKM FARMAKOLOGI yang sudah lama non aktif dengan visi dan misi yang baru. Awal terbentuknya UKM ini banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Karena dirasa dari segi riset di Jurusan Ilmu Kelautan masih kurang berkembang, maka dengan berdirinya UKM FARMASea ini menguatkan pondasi Jurusan Ilmu Kelautan sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Grand Launching dan Seminar FARMASEA

Semarang – Seminar Grand Launching FARMA Sea yang diadakan di FPIK ( Fakultas Perikanan dan Ilmu Perikanan) Universitas Diponegoro, kamis ( 13/3 ). Farma yang berarti obat dan sea yang berarti laut, FARMA Sea adalah sebuah UKM ( Unit Kegiatan Mahasiswa ) yang diharapkan dapat menemukan hal baru di bidang kelautan untuk obat-obatan. UKM ini berdiri 15 Januari 2008. Acara launching FARMA Sea di resmikan oleh Endang Sri Susilo selaku wakil dari Pembantu Dekan 3. Bersamaan dengan acara launching juga diadakan seminar sehari dengan tema “ Perkembangan Marine Pharmacology Berbasis Potensi Sumbar Daya Laut ”, dengan pembicara Ambariyanto dengan judul seminar “ Perkembangan Bioteknologi Kelautan di Indonesia ” dan Ocky Karna Radjasa dengan judul “ Drug from sea : Myth or reality ”.


Seiring dengan modernisasi di berbagai bidang, maka dunia kelautan juga mengalami perkembangan teknologi, meskipun tidak semaju bioteknologi kedokteran, bioteknologi makanan, dan bioteknologi pertanian. Hal ini dikarenakan sulitnya mendapat sampel dari laut, proses pengambilan sampel yang lebih berbahaya dibanding dengan pengambilan sampel dari darat. Serlain itu, belum begitu banyak diketahui serta tidak begitu banyak ahli taksonomi maupun etnobiologi organisme laut. Faktor lain yaitu ketidaktersedianya organisme laut secara melimpah.


Laut Indonesia sangat luas dan memiliki keanekaragaman sumber daya yang tinggi. Banyak produk laut yang dapat digunakan sebagai obat, bahan makanan, zat pewarna., vitaminarginine, proline, dan aspartic acid. Bugula neritina untuk anti kanker, Theonella sp untuk antileukemia, dan Mycale sp untuk antitumor.


Drug from sea : Myth or reality yang berarti obat dari laut : mitos atau realita yang memaparkan tentang biota – biota laut yang berpotensi untuk obat-obatan. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai oleh kekayaan sumber daya laut yang potensial. Salah satunya adalah ekosistem terumbu karang, yang merupakan kurang lebih dari total terumbu karang dunia. Dari tahun 1969-1999 ada sekitar 300 paten telah dikeluarkan yang berkaitan dengan bioaktif dari produk alam laut. Beberapa senyawa bioaktif telah telah dilaporkan berhasil diisolasi dari hewan invertebrata terumbu karang dan menunjukkan potensi menjanjikan dalam pengembangan obat dari laut dalam bidang biofarmasi kelautan. Indonesia menyimpan potensi mikroorganisme non-culturable yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam rangka mencari drugs from sea yang bisa dimanfaatkan demi kepentingan nasional dan masyarakat banyak.